Membumikan Psikologi Lewat Festival: Cerita dari Balai Raso Jo Pareso
- BROCA FK UNAND
- Aug 4, 2025
- 5 min read
Updated: Aug 16, 2025
Padang, 3 Agustus 2025 - Festival Balai Raso Jo Pareso: Menyatukan Psikologi dan Budaya dalam Ruang Rasa dan Kesadaran.
Padang Sehat dalam rangka memperingati lima tahun perjalanannya, menyelenggarakan sebuah Festival Kesehatan Mental bertajuk “Balai Raso Jo Pareso” pada Minggu, 3 Agustus 2025, di Kota Padang. Nama festival ini diambil dari ungkapan khas Minangkabau yang menggambarkan kepekaan rasa (raso) dan kesadaran diri (pareso) sebagai simbol jembatan antara budaya lokal dan ilmu psikologi. Festival ini dirancang oleh tim Padang Sehat yang digagas oleh Wahada Nadya, S.Psi., sebagai bentuk nyata dari kerinduannya untuk berkontribusi pada tanah kelahirannya. Tamu kehormatan turut memeriahkan pembukaan termasuk Gubernur Sumatera Barat yang diwakili oleh Dr. Aklima, MPH (Direktur RSJ Prof. HB. Saanin), perwakilan KSKP BKKBN Sumbar, Duta GenRe Sumbar dan Padang, serta berbagai biro psikologi dan rumah sakit jiwa. Selanjutnya, kehadiran mitra dan komunitas seperti Cherry Child Foundation, Tanah Ombak, AqilahbyRia, serta beberapa stand komunitas menjadikan festival ini bukan hanya acara seremonial, tetapi juga ruang kolaboratif lintas sektor untuk membahas isu kesehatan mental secara terbuka dan berkelanjutan.
Acara ini juga mendapat dukungan penuh dari berbagai pihak, termasuk beberapa sponsor yang turut berkontribusi dalam menyukseskan kegiatan seperti Fabriek Padang, Mormo, Biznet, Wardah, Monobi, Kahf, dan Gemmas yang bersama-sama memperkuat komitmen terhadap kolaborasi lintas sektor demi peningkatan kesadaran akan pentingnya kesehatan mental di masyarakat. Salah satu sponsor terbesar adalah Bank Nagari, yang memberikan dukungan finansial sekaligus semangat bagi terselenggaranya festival ini sebagai wujud kepedulian terhadap kesehatan mental masyarakat Sumatera Barat.
Festival Balai Raso Jo Pareso bukan hanya sekadar perayaan usia lima tahun namun juga bentuk perayaan serta pernyataan bahwa kesehatan mental adalah bagian penting dari kehidupan yang harus dipahami dan dirawat. Mengangkat pendekatan psikologi rasa yang terpadu dengan nilai - nilai Minangkabau, festival dapat memberikan pendekatan isu kesehatan mental kepada masyarakat dengan cara membumi dan tidak menggurui. Kegiatan seperti talkshow “Mengenal Diri, Pulang ka Diri” bersama dr. Arasy Nanda, Sp.KJ dan Devi Aryani, M.Psi., serta teater “Raso jo Pareso” oleh komunitas Tanah Ombak menghadirkan ruang kontemplatif yang dapat memicu kesadaran diri yang kolektif. Berbagai booth interaktif seperti Moodcheck Station, Memories Wall, Reflection Room, hingga Future Post-Room memperkaya pengalaman peserta dalam mengenali dan mengelola emosi secara kreatif. festival ditutup dengan penampilan lagu berjudul “This Is Me” bersama Cherry Child Foundation dan Afza Zafiri El-Hafish, serta pemotongan tumpeng sebagai simbol puncak rasa syukur lima tahun perjalanan Padang Sehat.
Dimulai pada pukul 13.00 WIB, para peserta dan tamu undangan mulai memadati lokasi dengan antusias. Acara pembukaan dihadiri oleh sejumlah tamu undangan penting. Gubernur Sumatra Barat diwakili oleh Dr. Aklima, MPH, selaku Direktur Rumah Sakit Jiwa Prof. HB. Saanin Padang, yang memberikan sambutan sekaligus membuka acara secara resmi.

Setelah sesi pembukaan, acara dilanjutkan dengan penayangan video perjalanan lima tahun Padang Sehat. Melalui potongan dokumentasi, video tersebut memperlihatkan dampak nyata gerakan Padang Sehat dari masa ke masa. Usai penayangan video, dilaksanakan sesi.
Panggung Perempuan bertajuk “Asa untuk Bertumbuh”. Sesi ini menghadirkan dua sosok perempuan inspiratif, yakni Nadya dari Padang Sehat dan Ria Anjelina dari AqilahbyRia. Panggung ini menjadi ruang penguatan emosional dan solidaritas antar sesama perempuan.
Selanjutnya, peserta diajak untuk mengikuti Talkshow “Mengenal Diri, Pulang ka Diri” bersama dr. Arasy Nanda, Sp.KJ dan Devi Aryani, M.Psi., Psikolog. Talkshow ini membahas pentingnya proses mengenali dan menerima diri sendiri sebagai fondasi utama dalam membangun kesehatan mental yang kuat.
Acara kemudian dilanjutkan dengan penampilan Teater “Raso jo Pareso” oleh komunitas seni Tanah Ombak. Pertunjukan ini mengangkat konflik antara rasa dan logika (raso jo pareso) dalam kehidupan manusia, terutama dalam konteks budaya Minangkabau.
Masih dalam nuansa reflektif, kegiatan dilanjutkan dengan Talkshow “Hidup dengan Luka yang tak Terlihat” yang dibawakan oleh Nadaa Izzathul Jannah, seorang survivor sekaligus content creator di bidang kesehatan mental.
Monolog Teater “Hal-hal kecil yang membuatku bertahan hari ini” oleh AlFathir. Penampilan ini membawa suasana hening dan haru, yang menjadi penegas bahwa harapan dapat ditemukan dalam momen-momen yang tampak kecil namun penuh makna.

Festival ini semakin semarak dengan hadirnya Mental Health Exhibition, yang menghadirkan berbagai booth interaktif seputar kesehatan mental.
Moodcheck Station, tempat peserta menyuarakan perasaan melalui benang emosi yang merepresentasikan suasana hati mereka.
Memories Wall, tempat peserta menuliskan kenangan baik maupun buruk sebagai bentuk penerimaan diri.
Balai Raso, yang menyajikan poster emosi edukatif untuk membantu peserta mengenali dan menamai perasaan mereka.
Reflection Room, menjadi ruang tenang untuk merenung dan menenangkan diri
Future Post-Room, mengajak peserta menulis pesan untuk diri mereka di masa depan.
Suasana semarak hadirnya Mental Health Exhibition; Moodcheck Station, Memories Wall, Balai Raso, Reflection Room, Future Post-Room. Minggu (3/8/2025). Foto: Arsip Redaksi BROCA BEM KM FK Unand.
Sebagai penutup rangkaian acara, suasana menjadi syahdu dan reflektif saat lagu “This Is Me” dibawakan dalam sesi bersama Cherry Child Foundation, sebuah organisasi profit yang bergerak di bidang kesehatan mental dan pendidikan inklusif, serta Afza Zafiri El-Hafish, mahasiswa psikologi yang juga aktif dalam dunia seni. Penampilan ini menjadi simbol penerimaan diri dan penguatan atas keberagaman emosi serta identitas setiap individu. Acara kemudian ditutup secara resmi dengan pemotongan tumpeng sebagai bentuk syukur dan perayaan 5 tahun Biro Psikologi. Momen ini menjadi penanda perjalanan penting komunitas dalam membangun ruang aman, edukatif, dan penuh kepedulian terhadap isu kesehatan mental di Sumatera Barat.

Kepuasan terhadap pelaksanaan festival ini juga disampaikan langsung oleh Wahada Nadya, S.Psi, selaku Founder Padang Sehat. Dalam keterangannya, Nadya mengungkapkan bahwa gagasan awal lahir dari keresahan pribadi semasa menempuh studi di Yogyakarta, ketika ia mempertanyakan kontribusi apa yang bisa diberikan untuk kota kelahirannya, Padang. “Meskipun awalnya terdapat kebingungan apakah konsep festival berbau psikologi ini akan dapat diterima masyarakat, untungnya respon yang diterima sangat positif dan antusias. Harapannya dengan diadakannya Festival ini masyarakat menjadi lebih aware terhadap kesehatan mental, lebih dekat dengan psikologi bukan lagi suatu hal yang tabu untuk dibicarakan dan semoga festival ini dapat menjadi wadah yang berkelanjutan” ujar kak Nadya. Ia menambahkan, festival ini menjadi wujud nyata harapannya untuk menghadirkan ruang yang ramah terhadap isu kesehatan mental.
Acara ini juga tidak terlepas dari dukungan berbagai pihak yang turut membantu menyukseskannya. Dukungan tersebut datang dari sejumlah sponsor yang berkontribusi dalam pelaksanaan kegiatan. Salah satu sponsor dalam acara ini adalah Bank Nagari, yang sejak awal berkomitmen mendukung kegiatan positif dan bermanfaat bagi masyarakat. Dengan adanya dukungan dari Bank Nagari dan sponsor lainnya, acara ini dapat terlaksana dengan lebih meriah dan memberikan dampak yang lebih luas.
Festival Balai Raso Jo Pareso menjadi bukti nyata bahwa pendekatan kesehatan mental yang berakar dari nilai lokal mampu membangun kedekatan emosional dengan masyarakat. Rangkaian acara yang dikemas melalui seni, edukasi, hingga ruang reflektif berhasil menciptakan pengalaman yang menyentuh dan bermakna bagi peserta. Kehadiran berbagai tokoh dari instansi pemerintah, biro psikologi, hingga komunitas, menandai kuatnya kolaborasi lintas sektor dalam mengangkat isu kesehatan mental sebagai bagian penting dari kesejahteraan masyarakat. Melalui pendekatan yang inklusif, puitis, dan berbasis budaya, Balai Raso Jo Pareso berhasil menjadi ruang aman yang mengajak masyarakat untuk mengenali luka, merayakan keberdayaan diri, dan menumbuhkan harapan bersama.
Semangat yang dibawa oleh Padang Sehat dan dukungan penuh dari masyarakat, diharapkan festival ini tidak hanya menjadi selebrasi lima tahun perjalanan, tetapi juga awal dari gerakan yang lebih luas. Festival ini menjadi pijakan untuk membangun ruang-ruang aman yang berkelanjutan, tempat di mana setiap orang dapat mengenali, merawat, dan merayakan kesehatan mentalnya. Harapannya, psikologi dan kesadaran emosional tidak lagi menjadi topik yang asing, melainkan bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat Minangkabau dan Indonesia pada umumnya.
Reporter : Chairani Loves










omaigatt kak ovess